Buhung Labbu (sumur panjang) terdapat dekat makam Dato Tiro di
Hila-hila Eka Tiro kecamatan Bonto Tiro kabupaten Bulukumba. Suatu waktu
Dato Tiro yang baru datang di daerah ini menyebarkan agama Islam
sekitar 12 abad lalu, mencari mata air tenpat berwudhu. Tetapi belia tak
menemukan mata air. Maka di tempat ini, setelah berdo’a, dato Tiro
menancapkan tongkatnya ke tanah, kemudian tersemburlah air dari dalam
tanah, yang kemudian menjadi mata air yang tak pernah berubah volumenya
baik musim kemarau maumpun musim hujan. Sampai saat ini Buhung Labbu
menjadi tempat permandian alam yang ramai dikunjungi wisatawan, dan
sumber mata air penduduk setempat. Muara Buhung Labbu di laut Hila-hila
sekitar 1 km arah utara – darna
Dato Tiro yang bernama asli Al Maulana Khatib Bungsu merupakan salah satu penyiar agama islam
terpandang di Sulawesi Selatan. Tak hanya menyebarkan ajaran-ajaran
kebaikan, Dato Tiro juga meninggalkan sejumlah warisan yang hingga saat
ini terus terjaga.
Salah satunya adalah sumur panjang yang
dikenal oleh masyarakat Bulukumba dengan nama Pemandian Hila-Hila.
Pemandian yang berada di Kecamatan Bonto Tiro atau tepatnya mengelilingi
masjid kuno peninggalan Dato Tiro itu hingga saat ini menjadi salah
satu destinasi wisata yang paling diincar di musim liburan.
Rahmat,
warga setempat menuturkan, kehadiran sumur panjang itu tak bisa
dilepaskan dari mukjizat Dato Tiro. Saat itu, Dato Tiro hanya membuat
garis panjang yang berkelok-kelok dari tongkatnya.
Selain keberadaan sumur atau kolam panjang yang dikenal dengan sebutan
Kolam Hila-Hila, sekitar 100 meter dari lokasi juga terdapat makam Dato
Tiro yang juga tak kalah ramainya dikunjungi oleh wisatawan lokal.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar