Selasa, 09 Mei 2017

sumur panjang dato tiro

Buhung Labbu (sumur panjang) terdapat dekat makam Dato Tiro di Hila-hila Eka Tiro kecamatan Bonto Tiro kabupaten Bulukumba. Suatu waktu Dato Tiro yang baru datang di daerah ini menyebarkan agama Islam sekitar 12 abad lalu, mencari mata air tenpat berwudhu. Tetapi belia tak menemukan mata air. Maka di tempat ini, setelah berdo’a, dato Tiro menancapkan tongkatnya ke tanah, kemudian tersemburlah air dari dalam tanah, yang kemudian menjadi mata air yang tak pernah berubah volumenya baik musim kemarau maumpun musim hujan. Sampai saat ini Buhung Labbu menjadi tempat permandian alam yang ramai dikunjungi wisatawan, dan sumber mata air penduduk  setempat. Muara Buhung Labbu di laut Hila-hila sekitar 1 km arah utara – darna
  Dato Tiro yang bernama asli Al Maulana Khatib Bungsu merupakan salah satu penyiar agama islam terpandang di Sulawesi Selatan. Tak hanya menyebarkan ajaran-ajaran kebaikan, Dato Tiro juga meninggalkan sejumlah warisan yang hingga saat ini terus terjaga.

Salah satunya adalah sumur panjang yang dikenal oleh masyarakat Bulukumba dengan nama Pemandian Hila-Hila. Pemandian yang berada di Kecamatan Bonto Tiro atau tepatnya mengelilingi masjid kuno peninggalan Dato Tiro itu hingga saat ini menjadi salah satu destinasi wisata yang paling diincar di musim liburan.

Rahmat, warga setempat menuturkan, kehadiran sumur panjang itu tak bisa dilepaskan dari mukjizat Dato Tiro. Saat itu, Dato Tiro hanya membuat garis panjang yang berkelok-kelok dari tongkatnya.

 Selain keberadaan sumur atau kolam panjang yang dikenal dengan sebutan Kolam Hila-Hila, sekitar 100 meter dari lokasi juga terdapat makam Dato Tiro yang juga tak kalah ramainya dikunjungi oleh wisatawan lokal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar